Mengintip Sekolah Zaman Now

Khasanah Zaman Old untuk Kids dan Teens Zaman Now ; belajar dari Sayidina Ali ra

Perilaku seseorang biasanya adalah akumulasi dari pengetahuan,pengalaman, serta pola asuh yang pernah diperolehnya. Demikian pula putra-putri kita. Bila disebutkan bahwa Al Ummu Madrasatun; ibu sebagai madrasah pertama bagi putra putrinya,

maka betapa strategisnya peran orang tua tsb dalam meletakkan dasar pembentukan karakter bagi anaknya. Selanjutnya, tentu saja adalah sekolah atau madrasah tempat para orang tua menitipkan anaknya untuk menimba berbagai ilmu yang berguna bagi masa depannya.

Fenomena sebagian kids dan teens zaman now yang terlihat menyimpang dari tradisi dan nilai-nilai akhlaqul karimah, seperti etika berbusana, pola pergaulan dan berpacaran yang mengkhawatirkan, sopan santun dan kepedulian sosial yang makin menipis , tidak bisa dilepaskan dari 2 habitat utama; rumah dan sekolah.. Home base dan school base yang permisif kurang mengindahkan ketentuan agama dipastikan akan melahirkan generasi yang juga permisif.

Banyak konsep atau pendekatan dalam pola asuh dan pola didik yang bisa menjadi rujukan. Dalam hal ini hendaknya terjadi sinergi antara pola asuh orang tua di rumah dengan pola didik para guru di sekolah, sehingga segala sesuatunya terjadi hubungan yang saling menguatkan, bukan sebaliknya. Semua orang tua pasti mengharapakan putra putrinya tumbuh cemerlang, pintar dan soleh. Namun terkadang, upaya yang dilakukan belum maksimal. Maka lindungi dan didiklah putra putri kita karena mereka adalah amanat Allah yang akan diminta pertanggung jawabannya. Didiklah anak-anak sesuai ajaran Islam’. Fleksibel dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jaman kita, dan tetaplah memprioritaskan Agama sebagai landasan pergaulan. Rumah adalah sekolah pertama pendidikan anak. Selanjutnya , hadiahkan mereka dengan sekolah terbaik yang bisa
melanjutkan harapan para orang tuanya.

Sayyidina Ali ra telah merumuskan cara memperlakukan atau mendidik anak berdasarkan jenjang umur 7 tahunan. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun) perlakukan anak sebagai raja. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun) perlakukan anak sebagai tawanan. Dan kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun) perlakukan anak sebagai sahabat.
Anak Sebagai Raja (Usia 0-7 Tahun)

Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya, apabila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya. Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Berikutnya yang mulai terasa berat adalah mengantarkan putra putri kita masuk ke fase berikutnya. Tidak sedikit orang tua yang memperlakukan putra putrinya seumur hidupnya sebagai raja: penuh kemanjaan,over protektif, tidak bisa jauh dari anak;padahal banyak hal yang harus ditumbuhkan pada diri mereka, seperti kemandirian,keberanian, tanggung jawab dsb.
Anak Sebagai Tawanan (Usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam Islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah saw mulai memerintahkan seoang anak untuk shalat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun jika meninggalkan shalat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
1. Melakukan sholat wajib 5 waktu, membiasakannya berjamaah di masjid bagi anak laki laki
2. Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat,
3. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
4. Membiasakan membaca Al-Qur’an,
5. Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya,
6. Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari. Reward ((hadiah/ penghargaan/ pujian) dan Punishment (hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setiap anak itu unik).
Penumbuhan karakter paling signifikan di usia ini. Sharing pola asuh antara orang tua di rumah dan para guru di sekolah benar benar diperlukan. Bakat dan potensi anak muncul di fase ini. Sebaliknya, pengaruh eksternal di luar orang tua dan guru akan mulai dominan. Inilah masa kritis (kelas 6 SD – kelas 2 SMP) yang bisa mengantarkan seorang anak berkembang potensinya atau menjadi the lost generation ,hilang dari pelukan orang tua, hilang dari radar guru dan sekolahnya, menjadi pribadi baru yang dibentuk oleh pertemanannya. Sebahagian orang tua memilih menitipkan putra-putrinya di pesantren atau boarding school , dengan harapan agar anak-anaknya dapat melalui fase kritis ini dengan selamat.

Anak Sebagai Sehabat (Usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orangtua sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti :
1. Berbicara dari hati ke hati. Inilah saat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.
Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Memberi Ruang Lebih. : anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling (pengawasan) tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya
3. Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih, agar kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
“Ya Rabbana anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Amin.”

wallahu a’lam.