Penampilan Drama Kolosal Jenderal Soedirman

Apa sih yang biasa kalian lakukan untuk mengisi Hari Pahlawan 10 November? Sekedar upacara? Pernah gak sih kalian mencoba meresapi menundukkan kepala dan mengenang jasa-jasa para pahlawan? Mungkin pernah ya,

Nah..kalau mencoba menjadi pahlawan itu sendiri gimana??

Pemuda, pahlawan baru..

Sebuah keniscayaan memang apabila setiap jaman akan melahirkan anak jaman-nya masing-masing. Disinilah peran kita sebagai generasi muda yang tak pernah putus dari sejarah bangsa ini untuk memberi makna baru kepahlawan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman.

Kita sebagai sekolah jaman now, mencoba mengenalkan dan mengingatkan kembali kepada generasi muda, khususnya para pelajar untuk melihat keberanian dan pengorbanan para pahlawan melalui sebuah drama kolosal.

Drama ini mengangkat kisah pahlawan Jenderal Besar Raden Sudirman yang menjadi salah satu panglima besar Tentara Nasional Indonesia. Sosio drama yang ditampilkan menceritakan perjuangan rakyat Indonesia bersama Panglima Besar Jenderal Sudirman ketika menghadapi agresi militer Belanda pada tahun 1948.

Peran Jenderal Sudirman diperankan oleh salah satu siswa kelas VII, Fathan Harits Jauhar. Saat itu diceritakan bahwa Yogyakarta merupakan kota yang tenang dan damai, sampai pada kedatangan tentara Belanda menyerbu Yogyakarta.

Kemudian, Jenderal Sudirman yang sedang sakit menghadap Presiden Sukarno (diperankan oleh Ariq, siswa kelas VII) saat itu, untuk melaporkan apa yang terjadi di Yogyakarta. “TNI akan timbul dan tenggelam bersama negara. Mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia sampai titik darah penghabisan.” kata Jenderal Sudirman.

Berbagai trik dan metoda perang gerilya dipraktikan dalam menghadapi Belanda saat itu. Di penghujung drama, Jenderal Sudirman menyampaikan pesan bagaimana dirinya bisa lolos dari kejaran pasukan Belanda.

Ia menyebutkan ada tiga ‘jimat’ yang selama ini ia gunakan. Pertama, dirinya tidak pernah lepas untuk menyucikan diri. Kedua, dirinya tidak lepas dari shalat lima waktu.

“Ketiga, semua saya lakukan dengan tulus dan ikhlas bukan untuk diri sendiri, bukan untuk keluarga, bukan untuk institusi, bukan untuk partai, tetapi untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia,” kata Jenderal Sudirman.